
Maxmillian Apituley Dipercaya Pimpin Estafet Organisasi
Dari duka menuju konsolidasi. Dari kehilangan menuju kebangkitan. DPN-JWI memilih tidak larut dalam kesedihan dan menegaskan: roda organisasi harus tetap berputar.
JAKARTA — Redmol.Id
Seorang pemimpin boleh pergi untuk selamanya, tetapi cita-cita dan perjuangan yang ditinggalkannya tidak boleh ikut terkubur.
Pesan itulah yang menjadi napas dalam rapat konsolidasi dan restrukturisasi Dewan Pimpinan Nasional Jajaran Wartawan Indonesia (DPN-JWI) yang digelar Sabtu (8/8/2026) di Mie Aceh Sumadra, Manggarai, Jakarta.
Di tengah suasana duka atas wafatnya Ketua Umum JWI, jajaran pengurus justru menunjukkan satu sikap tegas: organisasi tidak boleh vakum.
Rapat dihadiri unsur Dewan Pengarah yang terdiri atas Dewan Pembina dan Dewan Penasehat, jajaran pengurus harian DPN-JWI, Ketua Harian, Sekretaris Jenderal, Bendahara, Kepala Sekretariat, serta 15 Kepala Departemen Teknis.
Forum tersebut menjadi momentum penting untuk memastikan kesinambungan kepemimpinan, konsolidasi struktur, pembagian tugas, program kerja serta administrasi organisasi.
Duka Tidak Boleh Menghentikan Langkah
Pengurus DPN-JWI menyampaikan penghormatan dan doa bagi almarhum Ketua Umum. Namun, di balik suasana kehilangan itu terdapat kesadaran bahwa amanah organisasi harus tetap dijaga.
Sekretaris Jenderal DPN-JWI, Lindayani Ritonga, SE., MM, menyampaikan pesan yang menjadi garis tegas konsolidasi.
“Organisasi tidak boleh vakum. Roda organisasi harus tetap berjalan, program harus tetap dilaksanakan, dan seluruh jajaran harus tetap bekerja sesuai tugas dan tanggung jawabnya.”
Kalimat tersebut bukan sekadar pernyataan administratif.
Itu adalah penegasan bahwa keberlangsungan organisasi merupakan tanggung jawab kolektif.
Sebab organisasi yang kuat bukan organisasi yang hanya hidup ketika pemimpinnya hadir. Organisasi yang kuat adalah organisasi yang mampu berdiri ketika menghadapi kehilangan, kemudian bangkit dengan sistem, persatuan dan komitmen.
Bukan Berebut Kursi, Tetapi Menjaga Amanah
Dalam situasi transisi, isu kepemimpinan menjadi salah satu agenda utama.
Namun DPN-JWI menempatkan persoalan tersebut dalam kerangka keberlanjutan organisasi.
Setelah melalui pembahasan dan kesepakatan seluruh jajaran pengurus, forum menyepakati Ketua Harian DPN-JWI, Ir. Maxmillian Apituley, MT, untuk menjalankan tugas sebagai Ketua Umum JWI.
Keputusan tersebut mempertimbangkan pengalaman Maxmillian Apituley dalam menjalankan roda organisasi sejak JWI berdiri.
Namanya juga tercantum sebagai salah satu ketua dalam dokumen kepengurusan yang terdapat dalam SK AHU Kementerian Hukum RI Nomor AHU-0008102.AH.01.07.TAHUN 2024.
Dengan demikian, estafet kepemimpinan diharapkan dapat berjalan tanpa mengganggu program dan aktivitas organisasi.
Dewan Penasehat: Jangan Biarkan Perbedaan Memecah Persatuan
Ketua Dewan Penasehat JWI, Abdurrahman, mengapresiasi jajaran pengurus yang tetap menjaga soliditas.
Menurutnya, JWI harus tetap bersatu dalam mengemban visi organisasi sebagai organisasi profesi yang independen dan mampu memberikan kontribusi terhadap pembangunan bangsa.
Ia juga menekankan bahwa keberlanjutan kepemimpinan perlu berpedoman pada dokumen legal organisasi, termasuk SK Kementerian Hukum dan HAM serta akta pendirian JWI.
Pesannya sederhana, tetapi sangat penting:
jangan sampai masa transisi berubah menjadi ruang perpecahan.
Sebab ketika sebuah organisasi kehilangan persatuan, yang hilang bukan hanya struktur kepengurusan, tetapi juga kepercayaan dan marwah organisasi.
Maxmillian dan Tantangan Besar di Depan
Kepercayaan kepada Maxmillian Apituley tentu bukan akhir dari persoalan.
Justru setelah estafet kepemimpinan ditetapkan, pekerjaan yang lebih besar menanti.
Konsolidasi pusat dan daerah harus diperkuat. Administrasi harus dibenahi. Program kerja harus dijalankan. Departemen teknis harus bergerak. Dan komunikasi antarjajaran harus dibangun secara terbuka.
Karena organisasi wartawan tidak cukup hanya memiliki struktur.
Organisasi profesi harus memiliki integritas, keberanian, independensi, profesionalisme dan kepedulian terhadap kepentingan publik.
Di sinilah kepemimpinan baru akan diuji.
Pesan dari Sebuah Kehilangan
Rapat DPN-JWI tersebut pada akhirnya menyampaikan pesan yang jauh lebih besar daripada sekadar restrukturisasi.
Bahwa kematian seorang pemimpin memang meninggalkan ruang kosong.
Tetapi ruang kosong itu tidak boleh menjadi alasan untuk menghentikan perjuangan.
Yang wafat adalah sosoknya. Bukan cita-citanya.
Yang berubah adalah figur pemimpinnya. Bukan amanah organisasinya.
DPN-JWI kini memasuki fase baru.
Dengan kepemimpinan yang telah disepakati, konsolidasi menjadi pekerjaan rumah utama dan persatuan menjadi modal terbesar.
Sebab pada akhirnya, sejarah sebuah organisasi tidak hanya ditentukan oleh bagaimana ia berdiri.
Tetapi bagaimana ia mampu bertahan, bangkit dan tetap berjalan ketika menghadapi ujian.
DPN-JWI telah memilih untuk bangkit.
Estafet telah diteruskan. Perjuangan harus dilanjutkan.
