𝗡𝗮𝘁𝗮𝗿𝘂 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗠𝗲𝗻𝗴𝗵𝗶𝗱𝘂𝗽𝗸𝗮𝗻: 𝗞𝗲𝗹𝘂𝗮𝗿𝗴𝗮 𝗠𝗮𝗻𝗴𝗴𝗮𝗿𝗮𝗶 𝗡𝘂𝘀𝗮𝗱𝘂𝗮 𝗠𝗲𝗿𝗮𝘆𝗮𝗸𝗮𝗻 𝗞𝗲𝗯𝗲𝗿𝘀𝗮𝗺𝗮𝗮𝗻 𝗱𝗮𝗹𝗮𝗺 𝗙𝗶𝗹𝗼𝘀𝗼𝗳𝗶 𝗖𝗮𝗶 𝗠𝗼𝗿𝗶 𝗦𝗮𝗺𝗯𝗲 𝗞𝘂𝘁 𝗦𝗲𝗺𝗯𝗲𝗻𝗴 𝗔𝗴𝘂 𝗧𝗶𝘁𝗼𝗻𝗴 𝗞𝗼𝗲𝗴 𝗔𝗺𝗶

Teofilus Jom
0


Retmol.Id Denpasar Nusadua, Badung – 6 Januari 2026 Keluarga Manggarai Nusadua di Kabupaten Badung merayakan Natal dan Tahun Baru (Nataru) bersama dalam suasana penuh kekeluargaan, iman, dan budaya. Perayaan ini menjadi momentum mempererat persaudaraan diaspora Manggarai di Bali Khususnya Nusadua dengan berlandaskan filosofi hidup Manggarai: Cai Mori Sambe Kut Sembeng Agu Titong Koeg Ami.

Rangkaian kegiatan diawali dengan ritus Tuak Reis, sebuah tradisi penyambutan khas Manggarai. (Rabu 7/1/2026)

Rangkaian kegiatan diawali dengan ritus Tuak Reis, sebuah tradisi penyambutan khas Manggarai, sebagai ungkapan penghormatan kepada pastor yang akan memimpin Misa Syukur Natal dan Tahun Baru Bersama.


𝐌𝐢𝐬𝐚 𝐒𝐲𝐮𝐤𝐮𝐫 𝐝𝐚𝐥𝐚𝐦 𝐒𝐞𝐦𝐚𝐧𝐠𝐚𝐭 𝐈𝐧𝐤𝐮𝐥𝐭𝐮𝐫𝐚𝐬i

Misa Syukur dilaksanakan di Paroki Maria Bunda Segala Bangsa (MBSB) dan dipimpin oleh RD Adianto Paulus Harun, Pr, didampingi RD Ferdinandus Panggur, Pr. Perayaan Ekaristi ini dihadiri oleh para sesepuh Manggarai, seluruh keluarga Manggarai Nusadua, serta diaspora Manggarai yang berdomisili di Bali.

Dalam homilinya, RD Adianto Paulus Harun menegaskan makna Natal sebagai peristiwa kehadiran Tuhan di tengah manusia.

“Pada awalnya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah” (Yoh. 1:1).

Ia mengaitkan sabda Kitab Suci dengan filosofi Manggarai Cai Mori Sambe Kut Sembeng Agu Titong Koeg Ami yang mengajarkan hidup dalam kasih dan kebersamaan.

“Tuhan yang menjadi manusia (Yoh. 1:14) menunjukkan bahwa Dia ingin dekat dan berbagi kehidupan dengan kita. Bagi keluarga Manggarai Nusadua, ini adalah pengingat bahwa Tuhan selalu bersama kita—sekarang dan selama-lamanya,” ungkapnya.


Foto Sambutan dari RD Harianto Paulus Harun Pastor Paroki MBSB Nusadua (Rabu ,7/1/2026)


Umat diajak untuk menjadi terang dan garam bagi dunia, sebagaimana ditegaskan dalam Yohanes 1:4–5, dengan mewujudkan kasih Tuhan dalam kehidupan bersama.

𝐊𝐞𝐛𝐞𝐫𝐬𝐚𝐦𝐚𝐚𝐧 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐃𝐢𝐛𝐚𝐧𝐠𝐮𝐧 𝐒𝐞𝐜𝐚𝐫𝐚 𝐊𝐨𝐥𝐞𝐤𝐭𝐢𝐟

Perayaan Nataru tahun ini terasa istimewa karena disiapkan melalui semangat kolektif, kolegial, kontributif, dan partisipatif. Ketua Panitia, Kanisius Ganggas, secara khusus mempercayakan urusan konsumsi kepada 12 lingkungan di Paroki Maria Bunda Segala Bangsa.

Semua orang Manggarai di kawasan Nusadua diundang untuk terlibat, tanpa sekat asal wilayah. Kebersamaan ini menjadi wujud nyata semangat Manggarai yang selalu berjalan bersama dalam suka maupun duka.

𝐏𝐞𝐧𝐠𝐮𝐤𝐮𝐡𝐚𝐧 𝐏𝐞𝐧𝐠𝐮𝐫𝐮𝐬 𝐁𝐚𝐫𝐮 𝐌𝐚𝐧𝐠𝐠𝐚𝐫𝐚𝐢 𝐍𝐮𝐬𝐚𝐝𝐮𝐚

Perayaan Nataru 2026 semakin bermakna dengan pengukuhan Ketua dan Pengurus Keluarga Manggarai Nusadua (MANU) periode 2025–2028.

Foto Pemberkatan Kepengurusan Manggarai Nusadua Periode 2025-2025 oleh RD Adianto Paulus Harun Pastor Paroki MBSB (Rabu, 7 Januari 2026)

Nobertus Jelatu resmi dikukuhkan sebagai Ketua terpilih.

Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa kepemimpinan adalah tanggung jawab bersama.

“Menjadi Ketua Manggarai Nusadua bukan hanya saya seorang. Kita semua adalah ketua MANU. Mari bergandengan tangan dan bekerja sama membangun Manggarai Nusadua ke depan,” ujarnya.


Foto Pastor Paroki MBSB RD Adianto Paulus Harun bersama Ketua Panitia Natal ( Kanisius Ganggas, Ketua Manggarai Nusadua Nobertus Jelatu periode 2025-2028  dan Ketua Manggarai Nusadua Periode sebelumnya Adrianus Jhonson Syukur) di Aula Kristoforus Rabu, 7 Januari 2026

𝐌𝐚𝐤𝐧𝐚 𝐅𝐢𝐥𝐨𝐬𝐨𝐟𝐢 𝐂𝐚𝐢 𝐌𝐨𝐫𝐢 𝐒𝐚𝐦𝐛𝐞 𝐊𝐮𝐭 𝐒𝐞𝐦𝐛𝐞𝐧𝐠 𝐀𝐠𝐮 𝐓𝐢𝐭𝐨𝐧𝐠 𝐊𝐨𝐞𝐠 𝐀𝐦𝐢

Ungkapan Manggarai Cai Mori Sambe Kut Sembeng Agu Titong Koeg Ami berarti “Tuhan bersama kita sekarang dan selama-lamanya di dalam hati kita.”

Filosofi ini mengajarkan bahwa Tuhan hadir dalam setiap situasi hidup baik suka maupun duka serta menjadi dasar nilai kebersamaan dalam keluarga dan komunitas.

Bagi Manggarai Nusadua, “membawa hati dan harta” tidak dimaknai secara material semata, melainkan dalam bentuk keterlibatan fisik, pikiran, perhatian, dan aksi nyata. Dari para sesepuh hingga kaum muda dan mahasiswa, semua terlibat bahu-membahu menyukseskan perayaan.

𝐇𝐢𝐛𝐮𝐫𝐚𝐧 𝐁𝐞𝐫𝐧𝐮𝐚𝐧𝐬𝐚 𝐌𝐚𝐧𝐠𝐠𝐚𝐫𝐚𝐢

Acara Nataru Manggarai Nusadua dimeriahkan oleh duo MC yang energik, Apri Solleh dan Linda Fernandes. Mereka memandu acara dengan penuh semangat dan profesionalisme, membuat suasana semakin hangat dan meriah.


Foto MC (Apri Solleh dan Linda Fernandes) bersama Ketua Manggarai Nusadua terpilih Periode 2025-2028 Nobertus Jelatu ( Kanan) dan Adrianus Jhonson Syukur ( kiri) ketua Manggarai Nusadua Periode sebelumnya Rabu, 7 Januari 2025 di Aula Kristoforus Paroki MBSB 

Acara Nataru Manggarai Nusadua dimeriahkan oleh duo MC yang energik, Apri Solleh dan Linda Fernandes. Mereka memandu acara dengan penuh semangat dan profesionalisme, membuat suasana semakin hangat dan meriah.

Dengan gaya yang santai dan humoris, Apri Solleh dan Linda Fernandes berhasil membuat para tamu undangan merasa nyaman dan terlibat dalam acara. Mereka juga tidak lupa untuk mengajak para hadirin untuk berpartisipasi dalam berbagai kegiatan dan pertunjukan yang disajikan.

Dengan gaya yang santai dan humoris, Apri Solleh dan Linda Fernandes berhasil membuat para tamu undangan merasa nyaman dan terlibat dalam acara. Mereka juga tidak lupa untuk mengajak para hadirin untuk berpartisipasi dalam berbagai kegiatan dan pertunjukan yang disajikan.


Acara semakin semarak dengan berbagai penampilan seni budaya Manggarai, seperti tarian, lagu, dan drama singkat berbahasa Manggarai. Lingkungan yang berpartisipasi antara lain Ratu Rosari Tanjung, Salve Regina, Stella Maris–Pecatu, Santo Petrus, MBG, dan Santa Klara.


Sejumlah tokoh turut hadir, di antaranya Sekretaris IKMB Melki Malok, Ketua IKAMATIM Pius Endo, dan Ketua Ikatan Keluarga Manggarai Pecatu–Ungasan Agustinus Hadu.

Manggarai Nusadua sendiri merupakan bagian dari Ikatan Keluarga Manggarai Bali (IKMB) yang mencakup diaspora Manggarai, Manggarai Timur, dan Manggarai Barat.

“Manggarai Nusadua hanya satu. Tidak ada peguyuban Manggarai Nusadua yang lain,” tegas Nobertus Jelatu.


𝐏𝐞𝐧𝐮𝐭𝐮𝐩 𝐏𝐞𝐧𝐮𝐡 𝐒𝐮𝐤𝐚𝐜𝐢𝐭𝐚

Perayaan Natal dan Tahun Baru Bersama ditutup dengan goyang bersama. Anak-anak, kaum muda, hingga orang tua larut dalam irama musik, tawa, dan sorak kegembiraan.




Goyang bersama ini menjadi simbol persatuan dan kebersamaan keluarga besar Manggarai Nusadua—sebuah penutup indah yang menegaskan bahwa semangat Cai Mori Sambe Kut Sembeng Agu Titong Koeg Ami terus hidup dan menghidupkan, kini dan di tahun-tahun mendatang.











Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)