Setya Kita Pancasila (SKP)Bali Apresiasi Yayasan Kesatria Keris Bali Enam Tahun Mengabdi Melestarikan Warisan Budaya dan Taksu Bali

Admin RedMOL
0

Ketua SKP Bali, Nyoman Darmada, S.H., M.H., beserta jajaran pengurus. ,Poto netti 

DENPASAR, Bali-WartaGlobal.Id
SKP Bali menyampaikan apresiasi kepada Yayasan Kesatria Keris Bali yang telah memasuki usia enam tahun. Apresiasi tersebut disampaikan sebagai bentuk penghormatan atas konsistensi yayasan dalam melestarikan keris, nilai-nilai leluhur, serta jati diri budaya Bali.

Kegiatan tersebut dihadiri Ketua SKP Bali, Nyoman Darmada, S.H., M.H., beserta jajaran pengurus. 
Kehadiran SKP Bali menjadi wujud dukungan terhadap upaya pelestarian budaya yang dilakukan Yayasan Kesatria Keris Bali di bawah kepemimpinan Ketua Umum I Ketut Putra Ismaya Jaya atau Jero Bima.

Enam tahun perjalanan Yayasan Kesatria Keris Bali menjadi momentum penting untuk memperkuat komitmen menjaga warisan budaya, nilai leluhur, dan taksu Bali. Peringatan tersebut tidak hanya dimaknai sebagai seremoni organisasi, tetapi juga sebagai ruang refleksi mengenai tanggung jawab generasi saat ini dalam merawat dan meneruskan warisan leluhur.

Semangat pengabdian tersebut dirangkum dalam filosofi:

“Mulat Sarira Nyujur Rahayu.”

Filosofi ini mengandung makna pentingnya introspeksi, memperbaiki diri, serta mengarahkan setiap langkah menuju kebaikan, keharmonisan, dan kesejahteraan bersama.

Keris sebagai Warisan Budaya

Bagi Yayasan Kesatria Keris Bali, keris bukan sekadar benda pusaka atau koleksi. Keris merupakan bagian dari sejarah, filosofi, seni, pengetahuan, dan identitas budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Karena itu, pelestarian keris harus dilakukan secara menyeluruh melalui perawatan, penelitian, dokumentasi, edukasi, dan pengenalan kepada masyarakat.

Keris harus dikenal, dipahami, dirawat, dan diwariskan.

Upaya tersebut penting agar keris tidak hanya tersimpan sebagai benda pusaka, tetapi juga dipahami nilai dan maknanya dalam kehidupan masyarakat Bali.

Apresiasi SKP Bali

Ketua SKP Bali Nyoman Darmada, S.H., M.H., beserta jajaran menyampaikan apresiasi atas kiprah Yayasan Kesatria Keris Bali dalam menjaga keberadaan keris sebagai warisan budaya.

Menurutnya, pelestarian keris membutuhkan komitmen, ketekunan, dan kolaborasi berbagai pihak. Organisasi budaya memiliki peran penting dalam membangun kesadaran masyarakat, khususnya generasi muda, agar memahami bahwa keris merupakan bagian dari sejarah dan identitas Bali.

Apresiasi tersebut diharapkan dapat menjadi motivasi bagi Yayasan Kesatria Keris Bali untuk terus meningkatkan kegiatan edukasi, memperluas jejaring kebudayaan, serta memperkuat regenerasi pelestari keris.

Semangat Ngayah Menjaga Taksu Bali

Di tengah perubahan zaman, semangat ngayah memiliki arti yang semakin penting. Ngayah bukan hanya kegiatan sosial atau budaya, melainkan bentuk pengabdian yang dilakukan dengan ketulusan dan kesadaran untuk menjaga warisan leluhur.

Yayasan Kesatria Keris Bali menempatkan semangat tersebut sebagai landasan dalam menjalankan berbagai kegiatan pelestarian budaya. Menjaga taksu Bali dilakukan melalui perawatan tradisi, penguatan pengetahuan, pembukaan ruang edukasi, serta pelibatan generasi muda.

Taksu tidak lahir hanya dari seremoni. Taksu tumbuh melalui ketulusan, pengetahuan, disiplin, kreativitas, dan penghormatan terhadap nilai-nilai leluhur.

Tantangan Pelestarian Budaya

Bali menghadapi perubahan yang berlangsung cepat. Globalisasi, perkembangan teknologi, industri pariwisata, dan perubahan gaya hidup menjadi tantangan tersendiri bagi keberlangsungan budaya tradisional.

Oleh karena itu, pelestarian keris harus dilakukan dengan pendekatan yang terbuka, edukatif, dan relevan bagi generasi muda. Kegiatan diskusi, penelitian, dokumentasi, pameran, serta pembelajaran budaya perlu terus dikembangkan agar keris tidak hanya dikenang, tetapi juga dipahami dan dihargai.

Warisan leluhur harus menjadi pengetahuan yang hidup dan dapat diterapkan dalam kehidupan masyarakat.

Momentum Mulat Sarira

Peringatan enam tahun Yayasan Kesatria Keris Bali juga menjadi momentum mulat sarira, yaitu melakukan evaluasi terhadap perjalanan organisasi.

Evaluasi tersebut mencakup berbagai hal, mulai dari program yang telah dilaksanakan, capaian yang telah diraih, hingga langkah yang perlu diperkuat pada masa mendatang.

Sebuah kebudayaan tidak akan bertahan hanya karena memiliki sejarah panjang. Kebudayaan akan tetap hidup apabila ada manusia yang bersedia merawat, mempelajari, dan mewariskannya kepada generasi berikutnya.

Memperkuat Langkah ke Depan

Enam tahun perjalanan Yayasan Kesatria Keris Bali bukanlah akhir, melainkan titik untuk memperkuat pengabdian. Penguatan edukasi keris, dokumentasi pusaka, penelitian budaya, regenerasi pelestari, serta kolaborasi dengan berbagai elemen masyarakat menjadi langkah penting untuk memastikan warisan budaya tetap berkelanjutan.

Ketua Umum I Ketut Putra Ismaya Jaya bersama keluarga besar Yayasan Kesatria Keris Bali membawa pesan bahwa menjaga Bali tidak hanya berarti menjaga alam dan ruang fisiknya.

Menjaga Bali juga berarti menjaga ingatan, identitas, dan jiwa kebudayaannya.

Keris boleh tersimpan di dalam warangka, tetapi filosofi dan nilai yang dikandungnya harus tetap hidup dalam kehidupan manusia.

Pada akhirnya, menjaga keris merupakan bagian dari menjaga taksu Bali.

Selamat HUT ke-6 Yayasan Kesatria Keris Bali.

Mulat Sarira Nyujur Rahayu.

Ngayah untuk budaya.
Ngayah untuk leluhur.
Ngayah untuk Bali.
Tags

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)

#buttons=(Lanjutkan, Go it!) #days=(20)

Terima Kasi sudah berkunjung ke RedMOL ID, Info Lewat WhatSapp Hubungi Sekarang
Ok, Go it!