
DENPASAR — RedMOL.Id. Bali kembali bersiap menjadi titik temu industri pangan, minuman, perhotelan, restoran, kafe, hingga teknologi dan jasa pendukung pariwisata melalui BALI INTERFOOD EXPO 2026.
Pameran internasional edisi ke-7 tersebut akan digelar pada 2–4 September 2026 di Bali Nusa Dua Convention Centre (BNDCC), dengan waktu penyelenggaraan pukul 10.00–19.00 WITA. Data pada laman resmi penyelenggara mencatat pameran ini menghadirkan 200+ exhibitor, melibatkan 10+ negara, serta memproyeksikan lebih dari 17.000 pengunjung.
Pameran yang diselenggarakan Krista Exhibitions ini tidak hanya diarahkan sebagai ajang memamerkan produk. BALI INTERFOOD EXPO 2026 diposisikan sebagai platform bisnis yang mempertemukan produsen, distributor, pemasok, pelaku hotel dan restoran, pemilik usaha, investor, hingga pelaku industri pariwisata.
Krista Exhibitions sendiri telah bergerak di industri pameran sejak 1994 dan menyebut memiliki jaringan internasional serta pengalaman menyelenggarakan berbagai pameran lintas sektor.
Bali dan Rantai Pasok Industri Pariwisata
Dalam konferensi pers yang digelar di NEXX Café, Denpasar, Senin (31/8/2026), sejumlah asosiasi industri menyoroti pentingnya memperkuat keterhubungan antara sektor pangan dan industri pariwisata Bali.
Ketua Bali Tourism Board/GIPI Bali, Ida Bagus Agung Partha Adnyana, menjadi salah satu narasumber dalam kegiatan tersebut.
Bagi Bali, persoalan rantai pasok pangan memiliki posisi strategis karena sektor hotel, restoran, kafe, katering dan berbagai fasilitas pariwisata membutuhkan pasokan bahan pangan, produk olahan, peralatan serta jasa pendukung secara berkelanjutan.
Karena itu, pameran seperti BALI INTERFOOD EXPO diharapkan tidak berhenti pada transaksi selama pameran, tetapi mampu membuka hubungan bisnis jangka panjang antara produsen dengan pengguna akhir dari industri pariwisata.
Hotel dan Restoran Jadi Pasar Strategis
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bali, Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati, turut hadir sebagai narasumber.
Industri hotel dan restoran merupakan bagian penting dari ekosistem pariwisata Bali. Perkembangan standar pelayanan dan tuntutan konsumen membuat kebutuhan terhadap bahan pangan berkualitas, produk lokal, peralatan dapur profesional, teknologi pengolahan hingga sistem pendukung industri terus berkembang.
Dalam konteks tersebut, BALI INTERFOOD EXPO 2026 menjadi ruang pertemuan antara kebutuhan industri dengan produsen dan pemasok.
Salah satu nilai strategis pameran adalah memperpendek jarak antara produsen dan pengguna akhir. Pelaku usaha dapat melihat secara langsung produk, teknologi dan solusi yang dibutuhkan industri hospitality.
GAPMMI: Industri Pangan Harus Naik Kelas
Ketua Gabungan Produsen Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI), Adhi S. Lukman, turut memberikan perspektif mengenai perkembangan industri makanan dan minuman.
Industri pangan saat ini tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menghasilkan produk. Faktor bahan baku, teknologi produksi, keamanan pangan, pengemasan, distribusi, efisiensi serta kemampuan memenuhi standar pasar menjadi bagian penting dalam meningkatkan daya saing.
Karena itu, pameran industri dapat menjadi salah satu sarana mempertemukan pelaku usaha dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan pasar.
Pengalaman Krista Exhibitions dalam menyelenggarakan pameran sektor makanan dan minuman juga menunjukkan bahwa ajang semacam ini diarahkan untuk membangun jaringan bisnis dan membuka akses pasar yang lebih luas.
200 Lebih Exhibitor dari Berbagai Negara
BALI INTERFOOD EXPO 2026 secara resmi mencantumkan 200+ exhibitor dan keterlibatan 10+ negara. Pameran ini mengusung tema besar industri Food & Beverage, baking ingredients, HORECA, baking equipment, teknologi dan jasa.
CEO Krista Exhibitions, Daud Salim, menjadi salah satu narasumber konferensi pers.
Kehadiran ratusan peserta pameran tersebut memperlihatkan bahwa Bali bukan hanya dipandang sebagai destinasi wisata, tetapi juga sebagai pasar strategis bagi industri food service dan hospitality.
Dengan konsentrasi hotel, restoran, kafe, katering dan berbagai usaha pariwisata, kebutuhan terhadap produk serta teknologi pendukung industri hospitality di Bali memiliki potensi pasar yang besar.
Cokelat dan Hortikultura, Peluang Produk Lokal Bali
Salah satu peluang yang patut mendapat perhatian adalah komoditas lokal Bali, khususnya cokelat dan produk hortikultura.
Cokelat, misalnya, tidak harus berhenti sebagai komoditas bahan mentah. Dengan pengolahan yang tepat, komoditas tersebut dapat dikembangkan menjadi produk bakery, confectionery maupun produk premium bernilai tambah.
Begitu pula dengan sayur-mayur dan komoditas hortikultura. Kebutuhan hotel, restoran dan industri kuliner terhadap produk segar membuka peluang bagi petani dan produsen lokal.
Namun, peluang tersebut membutuhkan kesiapan. Produk lokal harus mampu memenuhi aspek kualitas, keamanan pangan, kontinuitas pasokan, volume produksi, pengemasan serta harga yang kompetitif.
Dengan kata lain, tantangan produk lokal Bali bukan sekadar menghasilkan barang, tetapi bagaimana memenuhi kebutuhan industri secara konsisten.
Seafood, Kopi Bali hingga Bakery
BALI INTERFOOD EXPO 2026 juga mencakup berbagai segmen yang berkaitan erat dengan industri hospitality, termasuk seafood, kopi, bakery, bahan baku, peralatan HORECA, teknologi dan jasa.
Laman resmi penyelenggara menempatkan pameran sebagai platform untuk memenuhi kebutuhan industri makanan dan hotel.
Kategori industri yang terkait antara lain produk susu dan telur, daging dan unggas, ikan serta hasil laut, buah dan hortikultura, confectionery, makanan beku, produk organik, makanan dan minuman nonalkohol, serta berbagai jasa pendukung.
Rantai industri tersebut menunjukkan bahwa sektor pangan tidak berdiri sendiri. Ia berkaitan langsung dengan hotel, restoran, kafe, pariwisata, distribusi, logistik dan tenaga kerja.
Angka Pengunjung: Target Konferensi Pers dan Proyeksi Resmi
Dalam konferensi pers, panitia menyampaikan target sekitar 8.000 pengunjung.
Namun, terdapat angka berbeda pada laman resmi BALI INTERFOOD EXPO 2026. Situs penyelenggara saat ini mencantumkan proyeksi 17.000+ visitors.
Perbedaan tersebut perlu dibaca secara proporsional: angka 8.000 merupakan target yang disampaikan dalam konferensi pers, sementara angka 17.000+ merupakan proyeksi yang dipublikasikan pada laman resmi pameran.
Terlepas dari perbedaan angka tersebut, arah pameran tetap sama, yakni mempertemukan pelaku industri dalam skala besar dan membuka peluang transaksi serta kemitraan lintas sektor.
Bukan Sekadar Pameran
BALI INTERFOOD EXPO 2026 pada akhirnya tidak hanya berbicara tentang berapa banyak peserta pameran atau pengunjung yang hadir.
Ukuran keberhasilan yang lebih penting adalah seberapa banyak produk lokal Bali mampu masuk ke rantai pasok industri hotel, restoran dan pariwisata.
Jika produk lokal mampu memenuhi standar kualitas, keamanan pangan, kontinuitas pasokan, kemasan dan harga kompetitif, maka pameran dapat menjadi pintu masuk menuju pasar yang lebih besar.
Sebaliknya, apabila produk lokal hanya menjadi penonton sementara kebutuhan industri hospitality tetap dipenuhi produk dari luar Bali, maka potensi ekonomi lokal belum sepenuhnya dimanfaatkan.
Di titik inilah BALI INTERFOOD EXPO 2026 menjadi penting.
Keberhasilan pameran bukan semata-mata diukur dari banyaknya orang yang datang, tetapi dari berapa banyak transaksi yang tercipta, berapa banyak produk lokal yang masuk rantai pasok, berapa banyak kemitraan usaha terbentuk, serta seberapa jauh industri Bali mampu naik kelas.
Narasumber konferensi pers:
Ida Bagus Agung Partha Adnyana — Ketua Bali Tourism Board/GIPI Bali
Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati — Ketua PHRI Bali
Adhi S. Lukman — Ketua GAPMMI
Daud Salim — CEO Krista Exhibition
Christina Pudjie - CMO Krista Exhibition
