𝗝𝗮𝗹𝗮𝗻 𝗗𝗲𝘀𝗮 𝗚𝗼𝗹𝗼𝗺𝘂𝗻𝘁𝗮𝘀: 𝗞𝗼𝗿𝗯𝗮𝗻 𝗝𝗮𝗻𝗷𝗶 𝗣𝗼𝗹𝗶𝘁𝗶𝗸 𝗱𝗮𝗻 𝗝𝗲𝗷𝗮𝗸 𝗣𝗲𝗻𝗴𝗮𝗯𝗮𝗶𝗮𝗻 𝗣𝗲𝗺𝗲𝗿𝗶𝗻𝘁𝗮𝗵 𝗦𝗲𝗹𝗮𝗺𝗮 𝗣𝘂𝗹𝘂𝗵𝗮𝗻 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻

Teofilus Jom
0

 

                   Foto Ilustrasi AI


𝐑𝐞𝐭𝐦𝐨𝐥 𝐃𝐞𝐧𝐩𝐚𝐬𝐚𝐫.𝐈𝐝 - 𝐌𝐚𝐧𝐠𝐠𝐚𝐫𝐚𝐢  𝐊𝐞𝐜𝐚𝐦𝐚𝐭𝐚𝐧 𝐒𝐚𝐭𝐚𝐫𝐦𝐞𝐬𝐞, 𝐍𝐓𝐓– Di tengah riuhnya narasi kemajuan pembangunan nasional, sebuah potret kontras tersaji di ujung barat Pulau Flores. Dusun Kewok, Desa Golomuntas, Kabupaten Manggarai, seolah terisolasi dalam lorong waktu. Sejak Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya lebih dari delapan dekade silam, warga di dusun ini mengaku belum pernah mencicipi rasanya berjalan di atas aspal yang mulus.

Kondisi jalan yang masih berupa tanah merah dan bebatuan tajam ini bukan sekadar persoalan infrastruktur, melainkan simbol "pengabaian" yang dirasakan langsung oleh masyarakat setempat.


Potret ruas jalan di Dusun Kewok Desa Golomuntas, Kabupaten Manggarai Provinsi Nusa Tenggara Timur Jalan ini belum pernah diaspal sejak Indonesia merdeka Rabu 2/4/2026 (Foto: BS) 


𝐒𝐮𝐚𝐫𝐚 𝐝𝐚𝐫𝐢 𝐋𝐮𝐦𝐩𝐮𝐫: 𝐊𝐞𝐥𝐮𝐡𝐚𝐧 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐓𝐚𝐤 𝐃𝐢𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐫

Bagi warga setempat, perjalanan menuju pasar atau pusat layanan kesehatan adalah perjuangan fisik. Tokoh Masyarakat Dusun Kewok, salah seorang warga Desa Golomuntas, mengungkapkan kekecewaannya terhadap Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Manggarai yang terkesan menutup mata.


"Kami ini seperti dianaktirikan. Sejak merdeka sampai sekarang, jalan kami tetap tanah. Kalau hujan jadi kubangan lumpur, kalau kemarau jadi debu. Kami sudah lelah berharap," ujar salah warga dusun kewok dengan nada bicara yang bergetar menahan kesal.


Salah satu Tokoh masyarakat menambahkan bahwa jalan ini merupakan urat nadi ekonomi. Akses ini menghubungkan antar-desa dan menjadi jalur utama bagi petani untuk mengangkut hasil bumi ke pasar. Namun, karena kondisi jalan yang ekstrem, ongkos transportasi membengkak dan nilai jual komoditas warga seringkali jatuh.




𝐓𝐞𝐫𝐣𝐞𝐛𝐚𝐤 𝐝𝐚𝐥𝐚𝐦 𝐒𝐢𝐤𝐥𝐮𝐬 𝐏𝐨𝐥𝐢𝐭𝐢𝐤 𝐋𝐢𝐦𝐚 𝐓𝐚𝐡𝐮𝐧𝐚𝐧

Sentimen bahwa jalan Dusun Kewok adalah "korban politik" bukanlah tanpa alasan. Warga merasa aspirasi mereka hanya laku dijual saat musim Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) atau Pemilihan Legislatif (Pileg).

𝐉𝐚𝐧𝐣𝐢 𝐊𝐚𝐦𝐩𝐚𝐧𝐲𝐞: Saat mencari suara, para calon pejabat datang membawa janji manis pengaspalan.

𝐑𝐞𝐚𝐥𝐢𝐭𝐚 𝐏𝐚𝐬𝐜𝐚-𝐏𝐞𝐦𝐢𝐥𝐮: Setelah kursi kekuasaan diraih, janji-janji tersebut menguap bersama debu jalanan Golomuntas.

𝐊𝐞𝐰𝐚𝐣𝐢𝐛𝐚𝐧 𝐏𝐚𝐣𝐚𝐤:  Warga menekankan bahwa mereka adalah warga negara yang taat membayar pajak, namun hak mereka untuk mendapatkan infrastruktur layak tak kunjung terpenuhi.


"Kami sudah sampaikan keluhan ini berulang kali kepada Bupati Heribertus Geradus Laju Nabit dan juga para anggota DPRD. Tapi hasilnya nol besar. Tidak ada tanggapan serius," tegas Warga setempat 


Menaruh Harap pada Bupati Manggarai Heribertus Geradus Laju Nabit

Kekecewaan warga kini bermuara pada harapan baru. Mengingat belum adanya perubahan nyata di bawah kepemimpinan sebelumnya maupun Kepemimpinan saat ini setelah terpilih lagi menjadi Bupati Kabupaten Manggarai warga kini mengetuk pintu hati Bupati Manggarai.

Masyarakat berharap Bupati dapat bertindak lebih responsif dan pragmatis tanpa beban kepentingan politik praktis. Mereka menuntut adanya langkah konkret—minimal pengerasan jalan atau pengalokasian anggaran pengaspalan dalam APBD 2027 mendatang.





Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)