Bela Negara 2.0: Bukan Lagi Senjata, Tapi Swipe Kritis Lawan Hoaks! Akademisi Ungkap Ancaman Baru RI di Medan Digital

Admin RedMOL
0


Denpasar 18 Desember 2025 Redmol. Id
 Hari Bela Negara bukan lagi soal parade seragam dan yel-yel nasionalisme usang. Di era TikTok dan X, bela negara justru dimulai dari jempolmu yang scroll berita palsu.

 Demikian tegas ditegaskan Dr. Anak Agung Putu Sugiantiningih, S.IP., M.AP., akademisi Universitas Warmadewa, dalam analisis tajamnya berjudul Bela Negara di Persimpangan Zaman.Bayangkan: dulu musuh datang dengan tank dan senapan, kini mereka menyusup lewat layar ponsel. "Generasi Z dan Alpha jadi sasaran empuk polarisasi politik, hoaks, radikalisme daring, plus individualisme ekstrem," tulis Dr. Putu. 
Mengutip konsep Asta Gatra dan Pasal 27 UUD 1945, ia menekankan bela negara kini jadi tugas semua warga – bukan cuma TNI-Polri.

Dari kolonialisme fisik ke disrupsi digital, ancaman NKRI berevolusi. Korupsi elite, ketimpangan ekonomi, dan krisis kepercayaan bikin ketahanan nasional goyah. 

"Pemerintah jangan cuma retorika seremonial. Bela negara butuh kebijakan adil, hukum tegas, dan ruang kritik sipil," kritiknya pedas, merujuk teori kontrak sosial dan demokrasi deliberatif.

Kepada anak muda, pesan Dr. Putu revolusioner: lupakan nasionalisme simbolik! Mulai dari literasi digital anti-hoaks, tolak intoleransi, lawan korupsi, hingga inovasi di ekonomi kreatif dan lingkungan. "Civic engagement adalah benteng utama. 

Pancasila harus jadi aksi nyata, bukan romantisme sejarah," ujarnya.Di tengah banjir informasi, bela negara adalah "kesadaran kolektif" untuk jaga nalar sehat, persatuan, dan keadilan. Jika generasi muda bangkit, Indonesia tak sekadar bertahan – tapi berdaulat di pusaran zaman.Artikel lengkap Dr. Putu jadi panggilan aksi: swipe bijakmu hari ini, selamatkan NKRI besok!

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)